Mahasiswa Gelar MTQ Antargampong dan Budaya Gemar Membaca

in actnearn •  2 months ago 

MTQ 33_Agita.jpg


Perlombaan MTQ menjadi salah satu kegiatan mahasiswa Universitas Malikussaleh yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Kecamatan Kuta Makmur, Simpang Keuramat, dan Meurah Mulia, Aceh Utara. Sebagian besar kelompok KKN terlibat dalam MTQ di setiap desa.

Mahasiswa KKN Kelompok 33 di Desa Meunasah Masjid Kecamatan Meurah Mulia, mengadakan perlombaan MTQ antargampong yang diikuti oleh tiga gampong yaitu Meunasah Masjid, Meunasah Keh, dan Ujong Reuba.

Menurut Humas KKN Kelompok 33, Dwi Agita Syahyanti perlombaan MTQ dilaksanakan di Dayah Baitul Hasani Al-Aziziyah, dengan cabang perlombaan azan, pidato, hafalan ayat pendek, dan tartil. “Anak-anak antusias mengikutinya,” kata Agita, Sabtu (21/9/2019).

Ketua Penyelenggara MTQ Antargapong, Dedy Arfiansyah, mengharapkan perlombaan tersebut diharapkan dapat melatih anak-anak untuk tampil di khalayak orang banyak sehingga nantinya tidak merasa grogi lagi. “Selain itu, ini juga menjadi bekal ilmu agama yang sangat penting,” ujarnya.

Tema yang diusung adalah “Meningkatkan Semangat Anak Menuju Generasi Qurani yang Unggul, Cerdas, dan Berakhlakul Karimah”. Tema ini diangkat untuk mendorong anak-anak menjadi generasi yang cinta Alquran dan bertindak sesuai kitab suci tersebut.

Kegiatan Kelompok 05

Perlombaan MTQ juga digelar mahasiswa KKN Kelompok 05 Desa Kebun Baru Kecamatan Simpang Keuramat, pada 18 – 20 September 2019. Empat cabang yang dilombakan adalah tartil Quran, hafalan surat pendek, azan, dan kaligrafi.

Sebelumnya, mahasiswa KKN Kelompok 05 juga melakukan sosialisasi gerakan membaca dan menyerahkan satu rak berisi buku pendidikan.

Seperti dilaporkan Humas KKN Kelompok 05, Intan Meutia, acara tersebut mendapatkan antusiasisme warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak. Tak kurang 100 warga Desa Kebun Baru meramaikan dan fokus mendengarkan materi di meunasah Gampung Kebun Baru.

Intan Mutia selaku pemateri dan penanggung jawab program mengatakan pemilihan program mandiri ini didasari karena kurangnya minat membaca pada anak-anak serta kurangnya peranan orang tua untuk mendongkrak potensi anak sejak dini.

“Dengan adanya sosialisasi dan donasi buku diharapkan anak-anak bisa lebih terfasilitasi dengan buku pendidikan dan tidak terlepas dari dorongan positif dari orang tua,” tandas Intan.[]


MTQ 05_Intan Meutia.jpg

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!