BAGAIMANA MENGENALI MANHAJ HIDUP YANG BENAR?

in hive-105209 •  2 months ago 

80C90F55-222E-4854-9B80-D01C9E1A69EE.jpeg

Nabi yang penuh rahmat perkenalkan rambu-rambu yang mudah yang terjangkau ke semua tingkat pemahaman umatnya.

Dalam segala hal kita dituntut untuk mengambil sikap kehati-hatian, terlebih lagi dalam urusan aqidah atau memilih manhaj, jalan dalam menempuh kehidupan.

Kalau dalam urusan pangkas rambut, jika memilih tukang pangkas yang salah, kita hanya perlu menunggu waktu 1 bulan untuk tumbuhnya rambut lalu datang ke tukang pangkas yang benar.

Kalau dalam hal bisnis, tidak hati-hati atau kurang perhitungan, kita bisa mencari modal lagi untuk bangkit dan menjadikan pengalaman gagal sebagai pelajaran berharga untuk melangkah lebih jauh dan mencari keuntungan yang lebih besar.

Kalau dalam urusan pemilu, salah pilih partai atau pemimpin, kita cuma perlu tunggu 5 tahun untuk memilih pemimpin lain yang menurut kita tepat.

Tapi tidak demikian urusan aqidah. Kesalahan dalam memilih aqidah dan manhaj dalam menempuh jalan menuju Tuhan, baru diketahui benar tidaknya saat kita sudah meninggalkan alam dunia yang fana ini, sehingga tidak ada lagi kesempatan kedua untuk meniti jalan hidup yang benar.

Maka karena itu, kalau dalam hal lain perlu kehati-hatian, dalam hal aqidah tentu jauh lebih ditekankan.

Ada yang bilang masa muda jangan terlalu kaku, harus sedikit liar dalam melakukan pengembaraan intelektual, asalkan masih tetap memiliki guru, karena suatu saat akan kembali lagi. Jadi nggak apa-apa berpikir agak sedikit liberal, karena nanti akan balik lagi ke Ihya. Kalau lah sempat balik... Bagaimana kalau keburu meninggal? Apalagi yang sudah dianggap balik pun kadang belum tentu benar-benar balik sebagaimana semestinya. Syukur-syukur kalau penyimpangannya hanya sekedar sesat atau fasiq. Apa jadinya kalau sampai ketidakhati-hatian dalam berpikir menjatuhkan dalam kekufuran, Nauzubillah!

Maka karena itu, kita perlu untuk sangat berhati-hati dalam mengawal urusan aqidah, ideologi dan paradigma dalam berpikir, khususnya pada hal-hal yang terkait dengan ketuhanan.

Lalu yang jadi pertanyaannya, Bagaimana cara kita menandai manhaj yang benar? Apa rambu-rambunya?

Nah, di sinilah kita bersyukur dan beruntung karena sosok Nabi yang membawa risalahnya untuk kita adalah Nabi yang penuh rahmat.

Nabi yang tidak hanya mengakomodir kalangan tertentu, tetapi petunjuknya tersasar ke semua elemen dan dapat dipahami oleh semua tingkat kecerdasan dan kealiman umatnya walau muallaf sekalipun.

Apa petunjuk yang Nabi berikan dalam mengenali firqah najiyah... Kelompok yang selamat...

Petunjuk Nabi ; Ikutilah sawadul a'zham (kelompok mayoritas)

Bayangkan andai rambu-rambu yang Nabi berikan, "ikutilah manhaj yang sesuai Alquran dan hadis".

Bagaimana nasib orang awam, yang terkadang jangankan memahami isi Alquran dan hadis, membacanya saja belum bisa. Maka rambu-rambu itu tidak terjangkau kepada pemahaman mereka. Mereka cuma dapat beragama secara menebak-nebak. Nasib baik kalau benar. Kalau salah resikonya neraka.

Tapi Sang Nabi yang penuh rahmat tidak seperti itu. Nabi yang tau kebanyakan umatnya justru dari kalangan awam, memberi petunjuk untuk mengenali manhaj yang benar, sampai terjangkau ke tingkatan terendah dari umatnya, "Ikuti mayoritas!"

Kalau mayoritas bahkan semua umat Islam beri'tikad shalat wajib, tiba-tiba ada ajaran baru yang mengatakan shalat tidak wajib, jangan diikuti. Kalau mayoritas umat Islam meyakini zina haram, tiba-tiba ada yang melegalkan zina jangan diikuti.

Kalau kebanyakan umat Islam memuji Sahabat, tiba-tiba ada segelintir yang mencaci sahabat, ini jangan diikuti. Saat Rabbiul Awwal mayoritas kaum Muslimin merayakan maulid, menggalakkan shalawat, membaca sirah Nabi, dan rutinitas kebaikan lainnya yang dapat mengukuhkan mahabbah Nabi, eh tiba-tiba ada yang setiap maulid rutinitasnya suka marah-marah, suka membid'ahkan, maka tidak perlu diikuti, cukup doakan semoga rasa marah-marahnya tidak menurunkan imun tubuh mereka sehingga rentan terpapar corona.. Doakan mereka, karena mereka adalah saudara kita.

Tapi intinya... Kita ikut saja yang mayoritas, karena itu cara paling mudah yang ditunjukkan oleh Nabi dalam menempuh manhaj kehidupan.

Dalam bidang amalan misalnya, mayoritas kaum Muslimin di seluruh dunia mengikuti salah satu Imam Empat, kita ikuti saja seperti itu sesuai daerah masing-masing.

Dalam bidang akidah mayoritas umat Islam, mengikuti akidah yang tidak menyerupakan Allah dengan makhluk, ikuti saja.

Dalam bidang tasawwuf, kebanyakan ulama lebih menitikberatkan kepada persoalan tazkiyatun nafsi, pembersihan jiwa, kita ikuti saja. Jangan suka hal-hal yang aneh yang malah suka menyampaikan bahasa yang membingungkan umat dengan mengatasnamakan Sufi. Ikuti saja yang biasa dan tasawwuf versi kebanyakan ulama.

Insyaallah Allah selamatkan kita semua untuk mengikuti manhaj hidup yang benar, sebagaimana yang dibimbing oleh para alim ulama...

Sekian! Semoga bermanfaat!
Jangan lupakan kami dengan doa Sahabat-sahabat sekalian...!

20210602_110118.png

Best Regard @joel0

20210602_110143.png

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!