When Words Cross a Injury without Making It Bloody: Wounds and Sources of Inspiration (The End) |

in hive-122108 •  2 months ago 



Isotia concept

The concept of Isotia was introduced by Peer Holm Jorgensen, a writer from Denmark who is very close to Indonesia. This concept prioritizes the greatness of the writer's soul to be able to accept a past that cannot be fixed. As Martin Alaida, a writer from Indonesia, said in the 2018 Borobudur Writer and Cultural Festival; "We write not to find who is wrong, but to remind all parties so that the incident does not happen again".

That's the impression we get when reading Peer's work, The Missing History (Noura Books, 2015). He offered facts as they were, without appearing to punish the Suharto regime for the suffering of a student leader, Djani, who was accused of being a traitor to the nation when the regime changed.

Peer does not blame anyone and reveals a dark history with a different side so that not only the author is "clean" after writing, but also the character in the book (Soeradjana) and the reader - of course. Past history is where we reflect, however it is a black sheet that we want to bury at the bottom of the ocean of the heart.

Distancing one's inner distance from conflict and injury sometimes enables writers to present stories from different dimensions.




Thrilling, without having to beg

It is in the construction of thoughts and imaginations such as the book Dalam Keriput yang tak Usang: Suara Pemuda dan Jalan Panjang Perdamaian in Aceh can be seen, with a more comprehensive label because this is a compilation of various types of writings. It could be an anthology of poetry, because in it we find two poetry chapters each from Universitas Malikussaleh and University of Indonesia students, as well as being a collection of short stories and essays.

The presence of UI students who saw Aceh from a different perspective gave a more neutral nuance to conflict, although the idiom choice in exploring peace and conflict (read: injuries) in their poetry was almost the same as Universitas Malikussaleh students, some of whom experienced or saw firsthand.

Dalam Keriput yang tak Usang: Suara Pemuda dan Jalan Panjang Perdamaian is a compilation of works from writers who mostly have no writing experience. Editor Zubaidah Djohar said only 20 percent had ever written. That is not detailed writing in what category.

With such conditions and diverse educational backgrounds, the works that emerge also vary in form and vary in quality. There are a number of descriptive poems that don't carefully pick up words so they look like closely related essays. There are indeed several streams in writing poetry, but the choice of words and idioms is a standard concept that we will find in any poem.

This reminds us all that inner experience is one thing while writing is another. Vibrant inner experiences must also be supported by a wealth of words and technical writing that can all be learned.

There are also poems that are born from the contemplation and incorporation of appropriate connotative and denotative words. There are very strong idioms like "walking without a spine" or "I haven't missed yesterday yesterday three" (just to mention an example). But it is not enough to present the beauty and power of meaning of a poem without the continuity of the preceding or following verses. The beauty of poetry must be seen in its entirety from the first letter to the last.

Perhaps because of writing format problems on the computer, all poems presented in this book have the same writing method. The first letters are all written in capital form, as if there is already an agreement between the authors or there are such standard requirements that must not be violated. In fact, poetry frees poets to write in any form while maintaining aesthetics.

We also find problems in preserving oversimplements and ways of presentation in writing short stories. Constructing conflict in intertwined words is an important part of shaking the mind without having to beg for the reader's attention.

The use of Acehnese language in the dialogue of characters in short stories does indeed thicken the scent of location and characteristics. But when all dialogue is presented in the same format, it will disturb the illusion of the reader, as footnotes in a fictional text. The writer must be more selective in choosing which dialogues should be conveyed in Acehnese language and dialogues that need to be explained only in Arabic. In another part, it is still found a double connotation language which can actually be replaced with another stronger sentence.

In writing short stories that explore pain, it is better for students to also read two of George Orwell's books, translated by Diva Publisher in Bahasa in mid-2019, are the Down and Out in Paris and London and Burma’s Days.

Weak data exploration is also seen in essay writing, except there are a number of essays that mention the data in a relevant way. To reinforce certain arguments, mention of data from credible sources is necessary. Exploration of the data can be presented in straightforward language, because we are not making scientific journal reports.

In addition, there are still typos in this book, including in the introductory editor there is an unfinished sentence. However, despite all that, this work deserves appreciation as a first step in self-cleaning. Going forward, we will see the great work of several CM members who faithfully serve the world of literacy.[]





Ketika Kata Melintasi Luka tanpa Membuatnya Berdarah: Luka dan Sumber Inspirasi (Tamat)

Konsep Isotia

Konsep Isotia diperkenalkan oleh Peer Holm Jorgensen, seorang penulis dari Denmark yang sangat dekat dengan Indonesia. Konsep ini mengutamakan kebesaran jiwa penulis untuk bisa menerima masa lalu yang tidak mungkin diperbaiki. Sebagaimana yang pernah disampaikan Martin Alaida dalam Borobudur Writer and Cultural Festival 2018; “kita menulis bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi mengingatkan semua pihak agar kejadian tersebut tidak terulang kembali”.

Begitulah kesan yang kita dapatkan ketika membaca karya Peer, The Missing History (Noura Books, 2015). Ia menyodorkan fakta apa adanya, tanpa terkesan menghukum rezim Soeharto atas penderitaan seorang tokoh mahasiswa, Djani, yang dituduh sebagai pengkhianat bangsa ketika rezim berganti.

Peer tidak menyalahkan siapa pun dan mengungkap sejarah kelam dengan sisi yang berbeda sehingga bukan penulisnya saja yang “bersih” setelah menulis, tetapi juga tokoh dalam buku tersebut (Soeradjana) dan pembaca—tentu saja. Sejarah masa lalu adalah tempat kita bercermin, betapa pun itu berupa lembaran hitam yang ingin kita kubur di dasar samudra hati.

Mengambil jarak batin dengan konflik dan luka terkadang membuat penulis bisa menyajikan cerita dari dimensi berbeda.




Menggetarkan, tanpa harus Mengiba

Dalam konstruksi pikiran dan imajinasi seperti itulah buku Dalam Keriput yang tak Usang: Suara Pemuda dan Jalan Panjang Perdamaian Aceh bisa dilihat, dengan label yang lebih komprehensif karena ini karya kompilasi berbagai jenis tulisan. Ia bisa jadi sebagai antologi puisi, sebab di dalamnya kita menemukan dua bab puisi masing-masing dari mahasiswa Universitas Malikussaleh dan Universitas Indonesia, sekaligus menjadi kumpulan cerpen dan esai.

Kehadiran mahasiswa UI yang melihat Aceh dari sisi berbeda memberikan nuansa yang lebih netral terhadap konflik, meski pilihan idiom dalam mengekplorasi perdamaian dan konflik (baca: luka) dalam puisi mereka nyaris sama seperti mahasiswa Unimal yang beberapa di antaranya mengalami atau melihat langsung.

Dalam Keriput yang tak Usang adalah karya kompilasi dari para penulis yang sebagian besar tidak memiliki pengalaman menulis. Editor Zubaidah Djohar menyebutkan hanya 20 persen yang pernah menulis. Itu pun tidak rinci menulis dalam kategori seperti apa.

Dengan kondisi seperti itu dan latar belakang pendidikan beragam, karya yang muncul juga beragam dalam bentuk dan beragam dalam kualitas. Ada beberapa puisi deskriptif yang tidak hati-hati memungut kata sehingga terlihat seperti esai berbait. Memang ada beberapa aliran dalam penulisan puisi, tetapi pilihan kata dan idiom menjadi konsep baku yang akan kita temukan dalam puisi mana pun.

Ini mengingatkan kita semua bahwa pengalaman batin adalah satu hal sedangkan cara menulis adalah hal lain. Pengalaman batin yang menggetarkan juga harus didukung dengan kekayaan kata dan teknis menulis yang kesemuanya bisa dipelajari.

Ada juga puisi yang lahir dari perenungan dan penggabungan kata konotatif dan denotatif yang tepat. Ada idiom yang sangat kuat seperti “berjalan tanpa tulang belakang” atau “rindu kemarin belum kutalak tiga” (sekadar menyebut contoh). Tetapi itu belum cukup untuk menghadirkan keindahan dan kekuatan makna sebuah puisi tanpa didukung kesinambungan pada bait-bait sebelumnya atau berikutnya. Keindahan puisi harus dilihat secara utuh mulai huruf pertama sampai terakhir.

Barangkali karena masalah format penulisan di komputer, semua puisi yang disajikan dalam buku ini memiliki cara penulisan sama. Huruf pertama semuanya ditulis dalam bentuk kapital, seolah sudah ada kesepakatan di antara penulisnya atau ada persyaratan baku seperti itu yang tak boleh dilanggar. Padahal, puisi membebaskan penyair menulis dalam bentuk apa pun dengan tetap mempertahankan estetika.

Masalah menjaga kesimbungan dan cara penyajian juga kita temukan dalam penulisan cerpen. Membangun konflik dalam jalinan kata yang berkelindan menjadi bagian penting untuk menggetarkan batin tanpa harus mengiba-iba memohon perhatian pembaca.

Penggunaan bahasa Aceh dalam dialog tokoh di cerpen memang mengentalkan aroma lokasi dan karakteristik. Namun ketika semua dialog disajikan dalam format sama, akan mengganggu ilusi pembaca, sebagaimana catatan kaki dalam sebuah naskah fiksi. Penulis harus lebih selektif dalam memilih dialog mana yang harus disampaikan dalam bahasa Aceh dan dialog yang perlu dijelaskan saja penuturannya dalam bahasa Aceh. Pada bagian lain, masih ditemukan bahasa berkonotasi ganda yang sebenarnya bisa digantikan dengan kalimat lain yang lebih kuat.

Dalam penulisan cerpen yang mengeksplorasi kepedihan, baiknya para mahasiswa juga membaca dua buku George Orwell yang diterjemahkan Penerbit Diva pada medio 2019 ini adalah Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London serta Hari-Hari di Burma.

Eksplorasi data yang lemah juga terlihat dalam penulisan esai, kecuali ada beberapa esai yang menyebutkan data secara relevan. Untuk memperkuat argumen tertentu, penyebutan data dari sumber kredibel sangat diperlukan. Eksplorasi data tersebut bisa disajikan dengan bahasa lugas, sebab kita tidak sedang membuat laporan jurnal ilmiah.
Selain itu, masih ada typo dalam buku ini, termasuk dalam pengantar editor ada kalimat yang belum selesai. Namun, terlepas dari semua itu, karya ini patut mendapat apresiasi sebagai langkah awal pembersihan diri. Ke depan, kita akan melihat karya besar dari beberapa anggota CM yang setia mengabdi kepada dunia literasi.[]



Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!