Mendorong Kelestarian Kerbau Gayo |

in hive-193562 •  3 months ago 



ACEH dikenal karena kopi Gayo, sudah tidak heran lagi sebab kopi Aceh memang sudah mendunia. Namun, Aceh dikenal karena kerbau, tunggu dulu. Kalau ditanyakan kepada 10 anak muda Aceh, mungkin sembilan di antaranya tidak ada yang tahu tentang keistimewaan kerbau Gayo. Padahal, Menteri Pertanian Republik Indonesia sudah menetapkan kerbau Gayo sebagai kekayaan sumber daya genetik lokal Indonesia melalui Keputusan Nomor: 302/Kpts/SR. 120/5/2017 tanggal 4 Mei 2017. Pengakuan terhadap rumpun kerbau Gayo sebagai kekayaan sumber daya genetik lokal merupakan yang kedua setelah pada 2014 kuda Gayo juga mendapat pengakuan serupa.

Ironisnya, di tengah pengakuan negara terhadap kekayaan genetik kerbau lokal, keberadaan kerbau Gayo semakin tidak menarik minat generasi muda, termasuk di kawasan Gayo sendiri. Kerbau Gayo tergusur aroma kopi dan ringkikan kuda. Populasi kerbau Gayo semakin berkurang, gerombolan kerbau liar menurun, bahkan satu-satunya pawang kerbau liar sudah meninggal dunia pada 2017 lalu dan belum diketahui penerusnya. Padahal, pawang itu sudah dipanggil sampai ke Riau untuk menangani kerbau liar.

Begitulah temuan hasil penelitian Abdullah Akhyar Nasution MSi, ketua Program Studi Antropologi Universitas Malikussaleh. Akhyar—panggilan akrabnya—menjadikan perencanaan kawasan untuk pengembangan wilayah peternakan kerbau Gayo sebagai disertasinya.

Penelitian tentang kerbau Gayo membawa Akhyar kepada pengetahuan lebih jauh tentang kerbau yang ada di Nusantara dan dunia. Dia mempelajari banyak literatur dan bergabung ke IBF. Ini bukan organisasi bulungtangkis atau tinju dunia, tetapi International Buffalo Federation. Dari penjelasannya tentang kerbau, dia lebih terlihat sebagai pakar kerbau daripada antropolog.

Berikut petikan wawancara saya dengan Abdullah Akhyar Nasution menyangkut penelitian tentang kerbau Gayo, tentang kekhawatiran lelaki ganteng itu terhadap kelestarian kerbau, tentang harapannya, dan tentang rekomendasinya yang perlu ditindaklanjuti pemerintah setempat.

Mengapa tertarik meneliti kerbau?
Awalnya, terkait pengalaman pribadi. Waktu kecil, saya lihat di kampung banyak kerbau, tetapi kemudian berkurang. Kedua, ketika membawa mahasiswa ke Bintang, Aceh Tengah, tahun 2010. Selesai Subuh, saya duduk-duduk, ada bapak-bapak cerita tentang kerbau yang dilepas liar di masa lalu. Dulu, hanya ada dua penyebab kerbau berkurang, yakni masuk jurang atau dimakan harimau. Tidak ada penyebab lain.


Abdullah Akhyar Nasution_Ayi Jufridar_04.jpg


Dari sana tertarik meneliti kerbau?
Benar. Ternyata di Sumatera hanya ada dua daerah yang menggunakan sistem lepas liar. Satu di Pampangan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Di sana, Bupati bahkan sudah menetapkan kawasan lepas liar.

Satunya lagi di Gayo Lues. Tapi tradisi ini semakin berkurang. Mulai 2017 saya mulai mencoba menelusuri praktek lepas liar. Akhirnya jumpa dengan seorang pawang di Terangon, Gayo Lues. Dia punya pengalaman menangkap kerbau liar, sampai ke Riau. Dia banyak bercerita tentang kerbau lepas liar yang sudah berkurang. Waktu itu dia hanya menangani dua atau tiga gerombolan liar.

Apa yang Anda lakukan setelah itu?
Tahun 2018, saya melanjutkan kuliah S3 dan akhirnya memutuskan fokus di perencanaan wilayah dari aspek antropologi dan konsen ke pengembangan wilayah peternakan, khususnya kerbau Gayo.

Saya menemukan ada beberapa variasi kerbau liar. Pertama, dilepaskan oleh pawang, pemiliknya beda dengan pawang. Bahkan pawang kadang tak punya kerbau. Tugas pawang, memanggil dan merawat kerbau liar. Dalam perjalanannya ada pawang yang meninggal, sehingga kerbau itu tidak bisa dipanggil, sehingga menjadi liar.

Mereka seperti ronin?
Hahahahaha, kurang lebih seperti itu. Gerombolan kerbau itu menjadi liar karena tidak memiliki tuan. Yang kedua, ada juga kerbau yang sengaja diliarkan. Tetap dilepaskan dengan pawang atau tanpa pawang, dengan ritual pelepasan tertentu. Di Gayo Lues dan Pampangan ritualnya beda. Tapi praktek itu tinggal sedikit.

Walaupun dilepas liar, kerbau tetap dikumpulkan di satu titik. Titik ini menjadi tempat pemberian garam mineral, untuk nutrisi kerbau. Jadi, garam ditumpukkan di satu tempat, tempat itulah yang disebut kandang atau uwer dalam bahasa Gayo.

Secara tradisional, tidak berupa kandang seperti yang kita lihat sekarang ini. Pada waktu-waktu tertentu, gerombolan kerbau itu dipanggil untuk menginjak-injak tanah. Satu gerombongan, biasanya kalau tanpa jantan, di bawah 20-an ekor. Kalau dengan jantan, bisa di atas itu. Dalam satu gerombolan, hanya ada satu jantan. Pimpinan gerombolan selalu betina.

Jadi, mereka lebih peka jender?
Hahahahaha. Dalam tradisi Gayo disebut ulu tawar, betina dominan. Jantan tetap patuh kepada betina. Dalam gerombolan kerbau, jantannya tidak boleh lebih dari satu.

Variasi ketiga?
Variasi ketiga, tuan tanah yang punya lahan ratusan hektar, melepaskan kerbaunya di situ. Tradisi ini masih ada beberapa di Gayo Lues. Dari beberapa itu, belakangan lahannya sudah berkurang. Namanya warisan.

Yang unik dari tauke-tauke kerbau di Gayo, keturunannya tidak tertarik menjadi tauke kerbau. Beda dengan petani kopi di mana penerusnya lebih bangga melanjutkan usaha kebun kopi. Padahal, Kementerian Pertanian sudah menetapkan kerbau Gayo sebagai salah satu rumpun khas yang memiliki keistimewaan genetik.

Apa saja keunikan kerbau Gayo?
Lebih adaptif dengan lingkungan. Secara genus, kerbau Gayo sebenarnya masuk dalam kerbau lumpur, tapi sudah beradaptasi dan bisa bertahan di daerah ketinggian. Kalau di Kalimantan ‘kan mainnya di rawa.

Oh ya, masih ada dua varian lainnya. Yang keempat, kandang dipagar satu atau dua hektar. Bisa juga disebut semi intensif. Makanan kerbau sudah dipasok, tetapi masih ada yang mencari makan sendiri, jumlahnya terbatas. Varian keempat ini relatif lebih banyak di Gayo Lues.

Varian kelima, intensif. Satu kandang, satu kerbau. Biasanya ini untuk dijual dagingnya.

Selain dijual dagingnya, adakah yang memanfaatkan susu kerbau?
Saya menemukan hanya ada pemerahan susu kerbau di Blangkejeren (Aceh Tenggara), tetapi volumenya kecil. Padahal, dulu anak-anak minum susu kerbau pengganti asi.

Ada yang namanya kuah koro; susu kerbau yang dimasak dengan garam. Ada juga pepire, susu kerbau yang dimasak dengan gula aren dimasak. Sekarang yang masih ada kuah koro. Dinamakan kuah, padahal ini susu.


Abdullah Akhyar Nasution_Ayi Jufridar_05.jpg


AKHYAR meriset tentang penetapan wilayah untuk pengembangan kawanan kerbau. Menurutnya, harus diproteksi kawasan untuk gerombolan yang bisa dilepas liar dalam keputusan politik pemerintah seperti qanun (peraturan daerah). Ini menyangkut luas lahan serta daya dukung keberlanjutannya. “Tapi itu memang tidak mudah,” sebutnya.

Hal itu berkaitan dengan wilayah jelajah kerbau bagian dari lahan konservasi, menjadi dilematis. Sekitar 73 persen kawasan di Gayo Lues termasuk wilayah konservasi. Yang bisa dipakai hanya sekitar 27 – 29 persen. Padahal secara tradisional, itu wilayah jelajah kerbau. “Makanya, riset ini diharapkan bisa menjadi naskah akademik dalam melahirkan qanun kawasan agar kerbau Gayo tetap lestari,” harap Akhyar.

Lelaki kelahiran Medan pada 1979 ini merekomendasikan pemerintah Kabupaten Gayo Lues menetapakan lokasi kawasan kerbau, kemudian modelnya seperti apa, dan bisa dipantau perkembangannya. Di Gayo Lues hampir semua punya populasi kerbau. Di atas 500-an ekor di Terangon, Tripe Jaya, Pantan Cuaca yang berada di Kecamatan Rikit Gaib. “Dan itu zonanya Leuser,” tambah Akyar.

Selama meriset, pengetahuannya tentang kerbau juga semakin bertambah, meski itu tidak termasuk dalam bagian penelitiannya. Masyarakat memahami jenis-jenis kerbau berdasarkan warna dan bentuk tanduk. Terkait tanduk, sedikitnya ada tujuh kelompok kerbau seperti cawing, di mana satu tanduknya meruncing ke atas dan satunya satu ke bawah. Kemudian ada tanduk gonok yang keduanya meruncing ke bawah. Lalu ada jenis gampang (tanduk memajang), durung (tegak ke atas), rukuk (sama dengan durung tetapi ujung tanduknya mengarah ke belakang), gope (kerbau tanpa tanduk), dan rebah (memanjang tanpa lengkungan).

Apakah semua jenis di atas terdapat di Aceh?
Kesemuanya ada di Gayo Lues dengan sejumlah kombinasi seperti warna kulit. Di daerah tertentu seperti Tanah Toraja, warna kulit kerbau menentukan harga. Warna kulit dan bentuk tanduk ini memiliki karakter tertentu. Misalnya kerbau gampang dengan kulit warna hitam, ini tipe pekerja keras dan dagingnya enak. Badannya pun lebih besar.

Ada juga tipe pemalas, itu jenis yang tanduknya melengkung ke bawah. Pengetahuan masyarakat menyebutkan begitu. Masih banyak ciri lainnya yang memiliki karakter khas. Untuk membuktikan apakah itu benar, bukan keilmuan saya untuk membuktikannya.

Mengapa generasi sekarang tidak tertarik memelihara kerbau?
Selain masalah gengsi, juga secara ekonomis dianggap tidak menguntungkan. Padahal ini disebabkan pola penggarapan yang dianggap sebagai kerja sampingan. Padahal hasilnya utama. Untuk kebutuhan besar, dulu kerbau itu yang diandalkan. Menikah, bangun rumah, berangkat haji, hasilnya dari kerbau. Kalau menjual daging, yang sederhana bisa menghasilkan Rp16 – Rp25 juta.

Kerbau ini juga termasuk hewan adat. Warna tertentu dan tanduk tertentu, bisa mahal harganya di daerah lain. Misalnya warna tedong lako, warna hitam bercak putih, tergantung tanduk bisa sangat mahal di daerah tertentu. Jadi, kelestarian kerbau bukan hanya kepentingan ekonomi semata. Ada latar adat di belakangnya.

Apa target Anda ke depan?
Selain lahir keputusan politik untuk melestarikan kerbau Gayo, dalam jangka pendek saya juga ingin menghadiri World Buffalo Congress di China, Oktober 2022 mendatang. Semoga ada yang mendukung adanya wakil Aceh, wakil Indonesia di pertemuan tersebut.

Apa manfaatnya hadir di Kongres Kerbau Sedunia?
Banyak, baik bagi diri sendiri maupun daerah bahkan Indonesia. Masyarakat dunia harus paham tentang kekayaan jenis kerbau di Indonesia. Harapan kita, IBF yang bermarkas di Roma, juga ikut mendukung kelestarian berbagai jenis kerbau di Indonesia, termasuk Gayo.[]



Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Saya Besar di bener meriah tepatnya di pondok baru desa jongok raya. ulasan ini sangat menarik sekali kanda dan mengingatkan saya tentang kerbau Gayo. Ayah saya petani kopi dan memiliki sekitar 30 ekor kerbau yang di lepas di daerah Simpur dan mangku Blang jorong. Saat itu ayah saya sering menjenguk (Mueneber Koro)ternak kerbau dengan beberapa temannya Kek Saleh dan Aman jannah sebulan sekali di sekitaran Padang rumput Simpur dan kawasan mangku. Tetapi kanda ada kerbau yang istimewa di Tanoh Gayo yaitu Koro Sawak, Bagi saya Koro Sawak sangat istimewa. Semoga Koro Gayo tetap terjaga selamanya karena sangat istimewa.

Thank you kanda

Halo, Bang Ayi.... Maafkan kemarin daku salah klik, ternyata yang terklik si merah ya, alias downvote. Maafkan daku ya, Bang.... seriously.

Iya neh, Kak @alaikaabdullah. Saya sudah yakin waktu itu bahwa kesalahan bukan pada pesawat televisi Anda, hehehehe.

ternyata ada kekhasan tersendiri dari kerbau, tetapi memang ada banyak hal yang bisa kita pelajari ulang dari heman-hewan yang ada di nusantara

Dari penjelasan peneliti itu, ternyata kerbau sejenis anoa juga ada di negara lain dengan lama dan karakter yang sedikit berbeda. Betapa kayanya negara kita.

hehehehe banyak yang belum kita ketahui ya bang

Wah, ternyata menarik juga tentang kerbau Gayo ini. Cukup disayangkan pawangnya sudah meninggal, kalau nggak kan bisa dilihat ritual pemanggilan kerbau liarnya, jadi penasaran caranya gimana.