Ini Alasannya, Kenapa Uang Gak Dicetak Banyak, Dan Dibagi-Bagi Ke Rakyat

in hive-193562 •  last month  (edited)

IMG_20210304_095330.jpg


Kalau pemerintah bisa cetak uang, kenapa nggak nyetak uang sebanyak-banyakya saja, terus uangnya dibagikan ke orang miskin ? Menurut data dari pusat statistik, angka kemiskinan di Indonesia itu ada di atas 9,22% di akhir tahun 2020 lalu. Artinya, ada sekitar 25 juta masyarakat Indonesia yang nggak mampu untuk memenuhi kebutuhannya dan berada di bawah garis kemiskinan.

Pernah kepikiran nggak, kenapa ya Pemerintah itu nggak nyetak uang sebanyaknya saja, terus dibagi-bagi ke masyarakat yang kurang mampu, supaya seluruh masyarakat Indonesia itu bisa hidup layak. Apa sih akibatnya kalau Bank Indonesia nyetak uang, terus dibagi-bagikan ke rakyat ?



IMG_20210304_095432.jpg

Nah, kalau kamu sempat kepikiran gitu, ikuti terus tulisan ini, karena saya akan nyeritain apa jadinya kalau negara nyetak uang terus dibagikan ke masyarakat.

Sebelum menjawab rasa penasaran kamu tentang kenapa Pemerintah nggak nyetak uang buat dibagikan ke masyarakat. Saya mau ceritakan dulu ini contoh kasus nyata yang pernah kejadian dalam sejarah. Pernah nggak sih ada Pemerintah yang bagi-bagi uang ke masyarakatnya ? Pernah.

Cerita pertama terjadi di Hongaria, setelah perang dunia pertama. Hongaria itu adalah salah satu negara yang besar di perang dunia pertama. Sebagai negara yang baru saja kalah perang, kondisi ekonominya itu lumpuh dan anggaran negaranya juga defisit. Dalam kondisi tersebut, Hongaria itu butuh uang buat nutupin kekurangan anggarannya sekaligus buat menggerakkan ekonomi negaranya.

Coba tebak, apa solusi yang dilakukan Hongaria ?

Yess ! Hongaria nyetak uang yang banyaaak sekali, dan uangnya itu disalur ke Bank, ke perusahaan, dan ke masyarakat. Dulu, mata uang Hongaria itu adalah Kronen. Sebelum perang dunia pertama, 1 Dolar Amerika, itu setara dengan 5 Kronen.

Terus, gimana setelah Hongaria setelah cetak uang yang banyak sekali ?

Sekitar sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1924, satu Dolar Amerika, itu setara dengan tujuh puluh ribu Kronen. Kebayang nggak sih, cuma dalam waktu sepuluh tahun, nilai tukar Kronen terhadap Dolar itu melemah sekitar 1.400.000%.

Supaya anda lebih gampang ngebayangi, saya akan coba analogikan mata uang Kronen ini dengan Rupiah.

Kalau nilai tukar Rupiah terhadap Dolar di tahun 2011 adalah 9.000, maka sepuluh tahun kemudian di tahun 2021 ini, satu Dolar itu setara dengan 126.000.000 Rupiah, ini sangat gila kan. Dan semua itu di akibatkan karena Pemerintah mencetak banyak sekali uang untuk nutupin anggaran kekurangan anggarannya. Kebijakan itu bahkan di lakukan setelah perang dunia kedua.

Setelah perang dunia kedua, lagi-lagi Hongaria itu bikin kebijakan buat nyetak uang. Kali ini mata uang mereka itu sudah berubah jadi Pengo. Uang yang dicetak itu, lagi-lagi ditawarkan ke Bank, perusahaan, bahkan dibagikan ke masyarakatnya. Saat itu, Pemerintah Hongaria, benar-benar membanjirkan masyarakatnya pakek uang. Tujuannya supaya ekonominya itu bisa bangkit lagi setelah perang dunia kedua.

Apa akibatnya ?

Terjadilah sebuah petaka, yaitu tingkat inflasi yang tertinggi dalam sejarah. Bayangkan, sebuah barang yang harganya 397 Pengo di September 1945, naik jadi 72.000 Pengo di Januari 1946. Terus naik lagi jadi 450.000 Pengo di bulan Februari 1946. Dan akhirnya jadi 1 Trilyun Pengo di tanggal 22 Juli 1946.

Kebayang nggak, barang yang harganya 397 Pengo, jadi 1 juta Trilyun Pengo dalam waktu singkat. Saat puncaknya inflasi di Hongaria itu mencapai 150.000% dalam satu hari. Ibaratnya gini, hari ini Indomie harganya sebungkus 2.500 Rupiah, besok harganya naik menjadi 3.750.000 Rupiah.

Saat itu tuh, pekerja sampai harus nego gaji mereka setiap hari. Karena nilai uang yang mereka terima itu selalu tergerus inflasi setiap harinya.

Nah, itu salah satu contoh di abad 20 guys, tentang negara yang mencetak uang untuk dibagi ke masyarakatnya. Ada juga contoh lain yang sangat menarik di abad 14 tentang salah seorang Raja terkaya dalam sejarah.

Ada seorang Raja bernama Mansa Musa, dari kekaisaran Mali di Afrika Barat, tahun 1300-an. Raja Musa itu tercatat sebagai salah satu Raja terkaya dalam sejarah yang punya tiga tambang emas besar.

Pada tahun 1324, Raja Musa itu pergi naik haji barengan sama 70 ribu rombongannya. Raja Musa bawa banyak sekali harta, termasuk 20 ton emas. Sepanjang jalan, Musa itu ngasih emas ke orang-orang miskin di kota-kota besar yang dia lewati. Seperti Kairo, Mekkah, dan Madinah. Karena zaman dulu perjalanan naik haji itu bisa berbulan-bulan, Raja Musa itu terus bagi-bagi emas ke banyak orang sepanjang perjalanannya. Cuma dalam waktu singkat, ada banyak sekali emas dari Afrika, yang mengalir ke Timur Tengah, sampai semua orang itu jadi punya emas.

Karena semua orang mendadak punya banyak emas, nilai emas itu jadi turun, sampai jadi nggak berharga lagi. Nilai tukar emas itu turun drastis, dan nggak balik ke nilai tukar sebelumnya sampai sekitar satu dekade. Harga barang-barang jadi naik, daya beli masyarakat menurun, kacau lah kondisi ekonomi di daerah Timur Tengah, dan sebagian Afrika pada masa itu.

Nah, dari kasus Hongaria dan Raja Musa, kita bisa sama-sama belajar dari sejarah, bahwa niat baik itu belum tentu berujung pada kebaikan. Niatnya sih memang baik, untuk nyetak uang dan membagikan ke orang-orang yang kekurangan. Tapi niat baik saja itu nggak cukup, tanpa pengetahuan ekonomi yang benar, mencetak uang sebanyak-banyaknya dan membagikannya ke masyarakat, itu bisa membawa bencana ekonomi yang besar.



IMG_20210304_095502.jpg

Nah, setelah dua contoh tadi, saya mau menjelaskan secara teknis, mengapa sih mencetak uang sebanyak-banyaknya malah bikin ekonomi semakin kacau ?

Ketika Pemerintah nyetak banyak sekali uang, terus uangnya dibagi-bagikan ke masyarakat, berarti uang yang beredar di masyarakat itu jadi bertambah signifikan dong.

Nah, ketika masyarakat punya uang, daya beli masyarakat itu jadi naik, dan tentunya masyarakat akan cenderung lebih konsumtif. Akhirnya permintaan barang dan jasa itu bakalan naik gila-gilaan. Sementara jumlah ketersediaan barang dan jasa, ya segitu-gitu saja.

Apa yang akan terjadi ?

Mumpung barang dagangan lagi laku keras, semua orang mampu beli, tapi ketersediaan barang itu terbatas. Ya ujung-ujungnya pedagang bakal menaikkan harga. Fenomena kenaikan harga ini kalau dalam ekonomi dikenal dengan istilah inflasi. Kondisinya itu lebih mudah dibayangin kalau kita melihat kenaikan harga menjelang hari raya lebaran.

Menjelang lebaran, masyarakatnya itukan punya banyak uang, karena dapat THR. Masyarakat jadi lebih mampu buat membeli barang dagangan dan jasa dan jadi lebih konsumtif juga. Hasilnya, harga barang terus naik, terutama bahan makanan dan pakaian itu naik, karena para pedagang terus menaikkan harga barang jualannya. Kita bisa lihat fenomena ini dari kenaikan tingkat inflasi tiap tahun yang selalu memuncak pada bulan puasa sampai lebaran. .

Nah, hal yang sama terjadi juga ini kalau Pemerintah nyetak banyak sekali uang, terus uangnya dibagi-bagikan ke masyarakat. Coba anda bayangkan, THR saja itu bisa bikin angka inflasi naik, itu cuma ekstra gaji dalam satu bulan saja buat sebagian masyarakat. Apalagi kalau Pemerintah nyetak uang sebanyak-banyaknya, terus uangnya dibagikan ke masyarakat.

Kenaikan harga itu bisa-bisa tak terbendung, dan kenaikan uang kita akan semakin nggak bernilai lagi. Meskipun punya banyak uang secara nominal sih, tapi nilai uangnya itu semakin turun. Harga barang dan jasa juga naiknya fantastis.

Maka dari itu dalam mencetak uamg, Pemerintah dan Bank Indonesia itu nggak bisa asal-asalan nyetak uang begitu saja. Ada penghitungan dan penelitian yang dilakukan. Kebutuhan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi juga perlu jadi pertimbangan.

Kalau anda penasaran dengan konsep inflasi, akan saya bahas pada postingan saya berikutnya. Karena keterbatasan waktu, saya sudahi dulu sampai disini. Semoga penjelasan tadi bermanfa'at dan juga menambah wawasan kita semua.

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mampir ke blog sederhana saya.

Sampai jumpa lagi.

By @midiagam

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!