Problematika Nikah Beda Usia

in hive-193562 •  last month 

IMG_20210122_204214.jpg


Source

Pernikahan dengan usia terpaut jauh, memang menimbulkan pertanyaan. Apakah perbedaan usia tersebut merupakan sebuah hal yang positif yang mampu membuat pernikahan menjadi lebih awet. Ataukah justru menjadi batu sandungan tersendiri. Serta apa yang membuat seseorang memutuskan untuk menikahi sosok yang memiliki usia yang lebih dewasa.

Biasanya ketika menikah dengan orang yang usianya jauh lebih lebih tua, lebih matang. Misalnya perempuan menikah dengan suami yang usianya jauh lebih tua, itu karena si pasangan itu memberikan kebutuhan akan rasa nyaman dan juga aman. Contohnya, pria yang lebih tua itu biasanya dianggap bisa memberikan kenyamanan dari sisi finansial, dalam sisi menjalankan kehidupannya nantinya.

Nggak hanya itu, dari segi emosi orang yang jauh lebih tua itu biasanya emosinya lebih matang. Jadi, cenderung tidak meledak-ledak, lebih bisa mengayomi. Tetapi tidak selamanya begitu, karena ada juga orang yang usianya lebih tua, tetapi sifatnya pun masih kekanakan. Kalau seperti itu, jatuhnya jadi lebih susah.

Ada orang yang usianya lebih muda, tapi malah secara emosional jauh lebih matang daripada yang lebih tua. Jadi, kita nggak bisa sama ratakan, harus dilihat dari masing-masing personalnya. Tetapi memang secara logika, harusnya yang lebih dewasa itu lebih bijaksana, sehingga harusnya lebih mudah dalam mengatasi konflik, di dalam penyesuaian dirinya.

Kadang-kadang pria yang lebih dewasa pun, banyak yang memilih perempuan yang jauh lebih muda. Karena perempuan itu memberikan dia rasa nyaman. Artinya, dengan menikahi perempuan yang lebih muda, dia merasa bahwa harga dirinya lebih naik.

Nah, sebetulnya kalau misalnya perbedaan usia itu masih okelah antara 10 tahunan masih oke. Tapi misalnya sudah jaraknya terlalu jauh, artinya misalnya di usia orang tuanya. Biasanya mungkin ada faktor lain. Ada istilah yang dibilang bahwa mencari pasangan yang lebih tua itu seperti mencari figur ayahnya.

Nah, ini bisa kemungkinan dua. Ketika memang tujuan bisa dipaksakan karena mencari figur ayah ya. Kemungkinan ada dua.

Yang pertama, karena keterikatan dengan ayahnya itu terlalu kuat, dia mencari figur yang inginnya yang sama, bisa memberi kebutuhannya dia yang sama seperti yang dengan ayahnya berikan ke dia, atau sebaliknya. Atinya saat dia kecil, dia tidak mendapatkan figur ayah. Sehingga dia ingin mencari figur ayah itu dari orang yang lainnya.

Dalam membangun hubungan dengan seseorang yang memiliki perbedaan usia yang cukup jauh, ada beberapa hal-hal yang harus diperhatikan, agar dapat sukses dalam membangun bahtera rumah tangga.

Faktor yang harus dipertimbangkan adalah dengan usia yang lebih dewasa, biasanya memang sudah pernah menikah sebelumnya, atau sudah memiliki anak. Yang harus dipersiapkan adalah kita harus bisa melihat kira-kira sebelumnya ketika perceraian itu terjadi, apa penyebabnya. Itu adalah hal yang kita usaha antisipasi, agar tidak terjadi hal yang sama dengan yang baru mau di nikah ini, itu yang pertama.

Yang kedua adalah bahwa yang nantinya harus diperhatikan nggak cuma pasangan kita. Tetapi juga harus anak-anaknya. Untuk kita bisa mempraktekkan anak-anaknya, maka perlu kesiapan mental di diri kita juga. Artinya kalau kita sendiri masih labil dan kita tidak bisa menyayangi anaknya, biasanya akan terjadi konflik, yang jadi terus menerus.

Biasanya jadinya sebelum nikah, perlu ada pendekatan dulu dengan anak-anaknya. Kita harus berusaha bagaimana caranya supaya anak-anaknya pun mau menerima kita. Dan ini bukan suatu hal yang gampang kan. Ibaratnya ketika kita ingin menikah, kita kan pokoknya ingin bahagia dengan pasangan yang saya cintai. Tapi ternyata tidak semudah itu, karena kita harus bisa diterima nggak hanya di sisi suami, tapi di disisi anaknya. Dan kadang-kadang untuk bisa diterima di sisi anaknya, itu juga lebih susah daripada calon suami, karena anak ini kan tentunya punya harapan terhadap ibu barunya, dia juga sayang sama ibunya yang kandungnya, ya kan. Sehingga itu bukan hal yang tidak mudah, tetapi kalau misalnya secara mental kita siap, harusnya tidak menjadi masalah.

Ada kiat-kiat tersendiri yang harus dilakukan untuk melancarkan jalan agar diterima oleh keluarga pasangan.

Seberapa proses penyesuaiannya itu sangat tergantung dari banyak faktor.

Yang pertama dari pengalaman masa lalu dari pasangan itu sendiri. Artinya kalau misalnya keluarganya itu sebelumnya penuh konflik dengan ibu yang sebelumnya, dengan istrinya. Artinya keluarganya itu tidak sehat. Maka penyesuaiannya akan jauh lebih lama, itu yang pertama.

Yang kedua faktor kepribadian dari orang yang mau menikahnya. Artinya kalau dia juga punya mental yang tidak terlalu kuat, orangnya tidak mudah beradaptasi. Akan cenderung lebih susah menyesuaikan diri dengan keluarga yang memang sudah ada sebelumnya.

Terus juga dari faktor anaknya. Artinya anak itu pasti punya kebutuhan tertentu, dan harapan tertentu yang di inginkan dari sosok ibunya. Kalau misalnya ternyata mecing dengan calon ibu barunya ya nggak masalah. Nah, Kalau ternyata nggak mecing ? Ternyata anak ini punya harapan tertentu yang misalnya ibu barunya nggak punya. Nah, itu juga penyesuaian yang lebih lama lagi.

Semoga bermanfa'at.

By @midiagam

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!