Ashes in the Snow: Kreatifitas Tak Bisa Dibunuh

in movie-review •  10 months ago 

d4ujsrtzf1.png
sumber

Kali ini filem yang akan saya ulas adalah Ashes in the Snow. Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul Between Shade of Gray bercerita tentang Lina, gadis 16 tahun yang memiliki bakat melukis dan berkeinginan untuk melanjutkan sekolah seni. Perang telah menyebabkan banyak orang menunda bahkan terputus dengan cita-cita mereka. Kondisi semacam ini memaksa Lina (Bel Powley) harus menunda bahkan mustahil dia bisa mengejar cita-citanya untuk kuliah di fakultas seni. Ini terjadi, ketika di suatu malam, Lina bersama Ibu dan adiknya yang tinggal di negara Lithuania ditangkap kemudian dideportasi ke kamp Siberia. Tentara Stalin yang dikenal dengan Red Army mengangkut mereka dengan kereta api menuju kamp tersebut bersama warga sipil lainnya yang juga menjadi tahanan dengan tuduhan konsipirasi dan keamanan. Sementara ayahnya yang dituduh membantu pemberontak ditempatkan di kamp terpisah dan dihukum mati.

Filem ini disutradarai oleh Marius a. Markevicius. Sang sutradara mencoba menggambarkan sesi perjuangan seorang gadis untuk bertahan di dalam kamp bercuaca ekstrem. Dengan mengambil latar tahun 1941, tepatnya di tengah perang kedua. Filem ini sarat dengan sisi kemanusiaan dan pengajaran psikologi tokoh. Biasanya, kita kerap menemukan filem drama perang memuat kisah kekejaman Nazi, tapi jarang mengekpos tentang kebrutalan resim Stalin terhadap negara-negara Eropa Timur yang menjadi wilayah jajahan Uni Soviet kala itu.

Di filem Ashes in the Snow ditunjukkan bahwa order Stalin sama buruknya dengannya orde Nazi dimana kedua rezim itu sama-sama menampilkan kekejaman, dan kengerian terhadap psikis para tahanan. Tak terkecuali Lina yang harus berjuang untuk bertahan. Betatapun permainan pisik yang terjadi, Lina terus mengasah kemampuannya lewat melukis. Lewat filem ini kita juga diajak untuk melihat sisi perang yang bukan hanya membunuh fisik tapi juga jiwa orang-orang yang selalu bersentuhan dengan kreatifitas. Disinilah berhasil dan tidaknya sebuah filem bergenre perang dalam memainkan kedua karakter ini. Saya melihat Ashes in the snow berhasil mengkombinasi kedua itu, dimana di saat karakter fokusnya sanggup berdiri di sisi dimana mata kita hanya tertuju kepada bagaimana dia bisa menerima keadaan tersebut dan bagaimana dia berjuang untuk cita-citanya itu.

Berbeda dengan filem Never Look Away, meski bergenre sama dan karakternya sama-sama pelukis, setting dan plotnya jauh berbeda. Di Never Look Away, si karakter bisa melanjutkan skill lukisnya di dunia luar meski sesekali karyanya tidak sesuai dengan kehendak Nazi, tapi ini memungkinkan si karakter tersebut untuk terus berkarya dengan gaya lain. Faktor studi karakter yang tercipta juga tak begitu terasa bila dibandingkan dengan Ashes in the Snow. Di filem ini, tepatnya di alur cerita, kita bisa menemukan tentang studi karakter yang hebat mengenai gejolak kemanusian dan dualitas kemampuan dari manusia korban kekejaman rejim yang dimasukkan ke dalam situasi yang mengerikan. Disini karakter seorang Lina disusupi suatu tekad untuk bertahan serta mempertaruhkan segalanya untuk menggunakan seni atau karyanya sebagai pesan untuk disampaikan kepada sang ayah agar, sudah dihukum mati atau masih ditahan, tahu bahwa dia dan keluarganya masih hidup.

Di usianya yang masih muda, Lina dipaksa melihat kengerian dan kekejaman prilaku tentara Stalin, betapapun demikian tidak lantas membuatnya mundur terhadap cita-cita itu. Apalagi setelah dipindahkan di kamp lain dimana mereka harus betul-betul bertahan di bawah cuaca ekstrem yang pada akhirnya dia harus kehilangan ibunya. Disini juga studi karakter dimasukkan lewat karakter Lina dan keinginan kuatnya untuk menjadi pelukis profesional. Filem ini rilis pada tahun 2018, bagi anda penyuka filem bergenre drama perang, filem ini bisa menjadi pilihan Anda. Selamat menonton!

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Film yang bagus, saya menyukai film ini, apakah ABG suka film ya????

ya suka lah, klo gak ngapain saya review,hehe

Betul juga BG. Tapi film yang bagus ini, banyak orang suka film ini

Thanks for using eSteem!
Your post has been voted as a part of eSteem encouragement program. Keep up the good work! Install Android, iOS Mobile app or Windows, Mac, Linux Surfer app, if you haven't already!
Learn more: https://esteem.app
Join our discord: https://discord.gg/8eHupPq

Oma, pah that bang, nyoe payah long catat judul jih, eunteuk malam kamoe neuk nonton bareng inoe. Dari kisah yg neu cerita, bereh sang film "Ashes In The Snow."

bereh. dan jeut keu inspirasi bagi tanyo yang na bakat dan cita-cita untuk diperjuangkan. slmat menonton.

Congratulations @abduhawab! You have completed the following achievement on the Steem blockchain and have been rewarded with new badge(s) :

You got more than 400 replies. Your next target is to reach 500 replies.

You can view your badges on your Steem Board and compare to others on the Steem Ranking
If you no longer want to receive notifications, reply to this comment with the word STOP

Vote for @Steemitboard as a witness to get one more award and increased upvotes!

Belum lihat film ini. Nantilah saya cari filmnya.

ya bang...mantap tu film

Hey there @abduhawab. Thanks for contributing to the realityhubs community again. I appreciate the effort you put into work. Keep it up and burning.

Please read our posting guidelines.

Do you have any questions? Chat with us on Discord

[RealityHubs Moderator]