Bercermin pada Karya Sendiri |

in realityhubs •  3 months ago 


Oleh Ayi Jufridar
Dalam sebuah diskusi sastra di grup diskusi sastra, seorang penyair mengingatkan seorang penyair muda yang mengaku sedang membaca puisinya sendiri yang dimuat di sebuah media cetak nasional. Menurut sahabat penyair tersebut, tidak perlu membaca puisi sendiri yang sudah dimuat. Lebih baik membaca karya yang ditolak untuk melihat kekurangannya sehingga bisa memperbaiki kembali agar memenuhi standar.

Menulis dan membaca merupakan satu paket kegiatan tak terpisahkan. Membaca bukan saja untuk memperkaya perbendaharaan kata dan memperkuat diksi sehingga bisa menyampaikan gagasan dengan lugas, lebih dari itu juga memperluas pemikiran serta membangun logika argumentasi.

Jadi, membaca merupakan respon lengkap mencakup sikap, kognitif, dan manipulatif dengan beberapa sub keterampilan di dalamnya (Fredick McDonald, 1996).
Karakter media

Banyak saran dari penulis, jika ingin meloloskan karya ke sebuah media, maka sering-seringlah membaca karya yang dipublikasikan di media bersangkutan. Tidak semua karya yang ditolak buruk, tetapi bisa jadi tidak sesuai dengan visi dan misi media. Masalah selera redaktur atau tim kurator juga menjadi salah satu pertimbangan tak tertulis, yang terkadang terasa tegas dalam artikel yang dimuat dan ada kalanya terasa samar.

Tidak ada paksaan agar penulis mengikuti gaya dan bentuk tulisan tertentu untuk menyerah kepada “selera” redaktur. Kemerdekaan berkarya bagi penulis lebih menentukan sehingga banyak yang memilih untuk melahirkan karya terlebih dahulu baru kemudian menentukan medianya, meski ada juga yang melakukan sebaliknya dan ada penulis yang menggabungkan kedua pola tersebut. Setiap penulis memiliki gaya masing-masing.

Lantas, bagaimana dengan membaca karya sendiri yang sudah dimuat? Apakah ini termasuk dalam bagian dari tujuan membaca sebagaimana yang dimaksudkan para pakar?

Proses berkarya seharusnya menjadi bagian dari tahapan pembelajaran yang dilakukan secara berkelanjutan. Seorang penulis, baik yang menggantungkan hidup dari menulis maupun tidak, menghasilkan banyak karya sepanjang karier kepenulisannya.

Tidak semua karya yang sudah muncul di media bisa diingatnya kembali. Ini pernah dialami seorang sastrawan yang menjadi juri dalam sebuah lomba cerpen. Dia merasa pernah membaca cerpen serupa, tetapi tidak ingat di mana dan kapan. Belakangan baru ia sadar bahwa cerpen tersebut merupakan karyanya sendiri yang diplagiasi oleh peserta lomba.

Bagaimana bisa ia melupakan karyanya sendiri, tentu bisa dipahami kalau penulis bersangkutan sudah menulis selama bertahun-tahun dan sudah melahirkan ratusan karya dalam berbagai bentuk (cerpen, puisi, novel, drama, atau nonfiksi).




Refleksi dan evaluasi

Membaca karya sendiri yang sudah dimuat menjadi bagian refleksi masa lalu yang bisa dilihat dari dua pendekatan. Pertama, dari lahirnya gagasan karya dan proses terciptanya karya tersebur sampai selesai. Kedua, aspek kualitas karya yang mengalami metamofosa seiring dengan perjalanan waktu.

Ada seorang penulis yang membaca kembali karyanya di masa lalu dan terkejut menyadari pemikirannya sendiri beberapa tahun lampau. Ada juga yang merasa malu dengan karyanya sendiri di masa lalu meski sudah mencapai standar tertentu.

Tidak jarang, proses kembali kepada pemikiran masa lalu dalam melahirkan karya justru memberikan sebuah ide baru yang berbeda dan lebih cemerlang. Jadi bukan sekadar bernostalgia memenuhi kerinduan masa lalu. Ada suasana pembelajaran di dalamnya.

Membaca kembali karya sendiri yang sudah dipublikasikan juga sebagai penegasan terhadap diri sendiri mengenai standardisasi sebuah media. Untuk media massa yang memiliki karakter dan segementasi serupa, tidak sulit memberi batasan.

Namun, media yang segmentasi dan visinya berbeda, tentunya dibutuhkan kesadaran sejak sebuah karya masih berupa embrio. Ibarat makanan, bahan dan bumbu yang dibutuhkan untuk anak-anak tentunya berbeda dengan orang dewasa—bahkan orang dewasa pun memiliki selera sangat spesifik yang harus disadari koki sejak awal.

Membaca karya sendiri bukan sebuah keniscayaan yang harus menjadi pedoman bagi semua penulis. Jadi, tidak perlu mempersoalkan ada penulis yang melakukannya dan ada yang tidak dengan pertimbangan berbeda. Yang penting, kegiatan membaca (baik karya sendiri lebih-lebih karya penulis lain) dan menulis merupakan bagian tak terpisahkan dari kerja kreativitas setiap penulis.[]






Badge_@ayi.png


follow_ayijufridar.gif


Posted on RealityHubs - Rewarding Reviewers
Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Tetap seumangat dan saleum kupi pancong

Bek pancong sabe-sabe Abu @mulawarman, sigoe-goe glah rayeuk....

jelas.... lagi taupayakan nyoe... biar mutume glah rayeuk