Seindah Warna Aslinya: Bahasa!

in zzan •  2 months ago 


Oleh Ayi Jufridar

SEORANG jurnalis di Aceh menyapa seorang prajurit TNI yang sedang memancing ikan di pinggiran Kota Lhok Seumawe, semasa konflik bersenjata beberapa tahun lalu. “Banyak gigit, Pak?”

Pertanyaan itu dijawab si prajurit dengan senyuman tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia masih tersenyum ketika jurnalis sebuah stasiun TV nasional itu mengulang pertanyaannya dengan nada yang lebih tinggi, barangkali menduga pertanyaan pertama tidak cukup keras untuk didengar. Padahal, bukan perihal suara yang tidak cukup keras yang membuat pertanyaan tidak mendapatkan jawaban semestinya, melainkan pertanyaannya memang membingungkan si prajurit yang berasal dari luar Aceh.

Kalau diterjemahkan kata per kata dari bahasa Aceh, tidak ada yang keliru dengan kalimat di atas. Dalam bahasa Aceh artinya; jai (banyak) jikap (gigit), Pak. Namun, menerjemahkan bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya, tidak bisa sesuai dengan makna sebenarnya karena akan melahirkan kebingungan atau bahkan kelucuan. Kasusnya sama seperti lelucon seorang petinggi polisi Indonesia yang memprotes rencana polisi Australia dalam mengusut kejadian kekerasan di Maluku: “don’t follow mix (jangan ikut campur).

Pengalaman serupa terjadi pada rekan sekantor saya yang bertanya kepada seorang jurnalis Jakarta, di mana kepastian dia akan mendarat; di Lhokseumawe atau di Banda Aceh. Yang mengejutkan, kawan jurnalis teman saya itu bertanya: “di mana tentu?” yang dikiranya terjemahan dari pat meuteunte?

Masih banyak lelucon lain tentang penerjamahan bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia yang dilakukan dengan mengabaikan makna aslinya. Rekan Steemians—terutama yang dari Aceh—pasti memilih pengalaman tersendiri yang menggelitik.

Penerjemahan bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya sesuai makna denotatif sudah menjadi keseharian dalam percakapan di berbagai daerah di Aceh. Bagi orang yang tidak bisa berbahasa Aceh, kerancuan ini membuat bingung karena tidak bisa menangkap pesan dari komunikator. Sedangkan bagi sebagian masyarakat yang mengerti bahasa Aceh, tak jarang kerancuan ini menjadi bahan tertawaan.

Bahkan di kalangan jurnalis ada yang sengaja berbicara dalam bahasa Indonesia dengan terjemahan bulat-bulat dari bahasa Aceh. Hal ini tentu saja sebagai lelucon. Bayangkan, ada wartawan yang bicara seperti ini: “kerja sehari gelap, gaji dua nak, mana bisa berdiri uang”.

Secara harfiah, kalimat itu diartikan dari bahasa Aceh: keurija siuroe seupot, gaji dua neuk, panee jidoeng peng. Terjemahan bebasnya adalah: “kerja sehari semalam, gaji hanya sedikit, mana bisa berhemat”.

Ironisnya, di kalangan jurnalis yang membutuhkan keterampilan berbahasa yang baik, kesalahan seperti itu sering terjadi. Tidak hanya dalam bahasa lisan, bahkan dalam berita di surat kabar pun masih sering kita jumpai kekeliruan serupa. Seorang jurnalis senior di Aceh, menulis di korannya yang merupakan sebuah harian referensi masyarakat Aceh: “penghasilannya masih rendah kendati sudah bekerja sehari gelap”.

Kalimat sehari gelap, dalam bahasa Aceh artinya siuroe seupot. Dua kata itu diterjemahkan “seindah warna aslinya” ke dalam bahasa Indonesia sehingga menimbulkan kerancuan. Kalimat seperti itu bisa naik cetak bisa jadi karena redaktur tidak bekerja dengan baik atau dia menganggap itu bukan sebuah kerancuan, atau bisa jadi dia tahu tetapi alpa untuk mengeditnya.

Dalam menjalankan fungsi edukasi bagi masyarakat, kekeliruan seperti ini dalam berita seharusnya tidak perlu terjadi. Sudah selayaknya seorang redaktur melaksanakan tugasnya dengan baik. Perusahaan pers juga harus memiliki ahli bahasa yang bukan saja mengerti bahasa Indonesia dengan baik, juga mampu menerjemahkan bahasa Aceh seindah makna aslinya.[]



Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Hahaa
Bereh that pertanyaan. Lage na droe jue, lage bahasa pak wa loen inoe.

Lage na droe = Seperti ada diri. Hehehehe.....

Hehee
Sep na teuh