Tantangan Spiritualitas Abad 21 : Book Review |

in zzan •  2 months ago 



Oleh: Ayi Jufridar

Judul : Spirituality of Happiness, Spiritualitas Baru Abad 21
Narasi Ilmu Pengetahuan

Penulis : Denny JA
Penerbit : Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, xiii + 150 halaman
Tahun terbit : Juli 2020


Agama vs Sains

Diskursus ini seharusnya sudah terjawab dengan sejumlah penelitian tentang pertentangan ilmu pengetahuan dan agama. Salah satunya adalah karya Prof. Dr. Zaghlul Raghib al-Najjar dalam Buku Induk Mukjizat Ilmiah Hadis Nabi (Zaman, 2010). Buku tersebut menyibak fakta-fakta ilmiah sabda Nabi Muhammad SAW, yang kebenarannya baru tersingkap di era kemajuan sains dan teknologi.

Hadits-hadits tentang alam semesta, tentang proses penciptaan manusia, makanan, kesehatan dan pengobatan, sampai perilaku, terbukti kebenarannya secara ilmu pengetahuan jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Ini membuktikan, beberapa kebenaran dalam ucapan Rasulullah bukan sekadar kisah yang disampaikan dalam rangka pengajaran moral.

Jadi, tidak ada penolakan terhadap ilmu pengetahuan dalam agama. Keduanya harusnya rukun dan saling bersinergi. Ada beberapa kejadian dalam sejarah agama yang tidak bisa diterima logika sehingga ditempatkan sebagai mitos, tidak ilmiah, bahkan dianggap halusinasi.

Beberapa di antaranya coba dibuktikan dengan riset, sehingga ketika tidak ditemukan bukti empiris, diputuskan bahwa kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Padahal, penelitian itu belum selesai. Kesimpulannya pun belum tuntas untuk dianggap sebagai sebuah kebenaran absolut.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan hasil riset masih relatif dan sering berubah (Helmi Basri, 2018), sehingga tidak bisa dijadikan landasan untuk menolak spiritualitas dogmatis. Bahkan Einstein pun mengakui, ilmu pengetahuan tidak sempurna dan tidak bisa menjawab semua hal (hal. 57).

Kalau spiritualitas baru hanya dimaknai dengan “menuhankan” akal dan ilmu pengetahuan, sesungguhnya tidak ada kebaruan dalam kasus ini. Hanya saja, selama ini umat beragama cenderung menempatkan agama sebagai acuan ibadah semata, bukan acuan untuk hidup dalam makna luas.

Nilai-nilai spiritual yang ada hanya digunakan dalam ritual ibadah, sementara implementasi dalam bidang sosial, ekonomi, politik, masih tergantung kepentingan. Nilai spiritual ditinggalkan ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Dalam kondisi demikian, wajar saja indeks kebahagiaan warga negara Indonesia masih rendah. Padahal penelitian Pew Research Center pada Juli 2020, menempatkan Indonesia di urutan pertama sebagai negara paling religius, mengalahkan banyak negara lain yang menjadi pusat lahirnya agama.

Kedua penelitian tersebut seolah memperlihatkan, tingginya nilai religiositas tidak berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan. Kalau kesimpulan ini dijadikan acuan, wajar kalau kemudian muncul penilaian, spiritualitas dogmatis dianggap tidak lagi mampu menjawab tantangan zaman.




Secara logika, pertentangan spiritualitas dogmatis dengan sains dianalogikan dengan orang membeli celana baru, yang kemudian tidak pas dengan ukuran kaki. Bisa jadi lebih panjang atau lebih pendek. Solusi yang harus dilakukan kemudian adalah menyesuaikan ukuran celana dengan panjang kaki, bukan dengan memotong atau memanjangkan kaki.

Ketika membahas pertentangan keyakinan antaragama, Denny mencoba menyodorkan beberapa contoh yang sering menjadi sumber perdebatan. Misalnya, perbedaan keyakinan antara Kristen dan Islam tentang siapa yang sesungguhnya yang dikurbankan Nabi Ibrahim (hal. 42). Umat Kristen meyakini, yang dikurbankan adalah Nabi Ishak. Sedangkan umat Islam percaya, yang dikurbankan adalah Nabi Ismail, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surah As-Shaffat ayat 99-113.

Beberapa referensi menyebutkan, perbedaan itu justru terjadi antara Islam dengan Yahudi. Ketika kasus tersebut ditanyakan kepada Gus Dur, jawabannya menuntaskan perbedaan tersebut. “Baik Ismail maupun Ishak, dua-duanya tidak jadi disembelih, jadi buat apa diributkan,” jawab Gus Dur dengan gaya dan tawa khasnya (www.nu.ord.id).

Banyak riset ilmiah spektakuler yang dikutip dalam buku ini, selain data sekunder yang memang menjadi salah satu kelebihan penulisnya. Wacana tentang spiritualitas abad 21 mengingatkan kembali tentang upaya memanusiakan manusia, dengan sinergitas dua potensi yang dalam dirinya dan tidak dimiliki makhluk lain, yakni akal dan hati.

Dalam beberapa bagian, buku ini mengulang pertentangan sejarah antaragama yang disajikan dalam konteks berbeda, antara lain menyangkut perbedaan siapa yang dikurbankan, kembali disebutkan pada halaman 51.

Pengulangan juga terjadi pada penyajian data dan isu, seolah menunjukkan keterbatasan kasus yang bisa dikupas secara luas dan tuntas. Kelemahan editing dan banyaknya typo di sejumlah bab juga sangat menganggu kenyamanan membaca buku ini sampai titik terakhir. ***



Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!